Jelang Wisuda, Mahasiswa UMLA Hasilkan Inovasi Teknologi Alat Sensor Deteksi Gangguan Bipolar Melalui Gelombang Suara

Rohmatul Badiyah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan saat presentasi Inovasi teknologi alat sensor deteksi penyakit bipolar karyanya (foto: az)
SUARABHINNEKA, LAMONGAN – Rohmatul Badiyah (22) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menemukan dan menciptakan teknologi alat sensor deteksi gangguan Bipolar yang diberi nama “Bipohear”.
Badiyah, merupakan mahasiswi akhir pada Program Studi S1 Fisika yang akan diwisuda bersama 843 mahasiswa lainnya, Sabtu (11/10/2025).
Inovasi tersebut, lahir setelah sang mahasiswi berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sainstek (Diktisaintek) melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) atau Diktisaintek Berdampak.
Alat pendeteksi gangguan bipolar berbasis analisis frekuensi suara percakapan tersebut, dibimbing oleh Uswatun Chasanah, M.Si sebagai pembimbing utama dan Asmaul Lutfi Marufah, M.Si sebagai pembimbing kedua.
Karya inovatif ini bahkan terpilih sebagai salah satu karya terbaik universitas di tahun 2025, yang akan diberikan saat Wisuda ke-7.
“Alat yang diberi nama Deteksi Gangguan Bipolar ini, memanfaatkan sensor MAX9814 yang terintegrasi dengan mikrokontroler Arduino Nano dan modul Internet of Things (IoT),” ujar perempuan yang akrab disapa Badiyah ini.
Sistem ini, kata Badiyah, mampu merekam, menganalisis, sekaligus menampilkan anomali frekuensi suara percakapan pasien yang menjadi indikator perubahan suasana hati ekstrem pada penderita bipolar.
“Suara manusia menyimpan banyak informasi penting. Pada pasien bipolar, pergeseran emosi dapat terlihat dari perbedaan frekuensi suara mulai dari fase mania dengan suara lebih tinggi dan cepat, hingga fase depresi dengan nada rendah dan monoton. Alat ini kami kembangkan agar deteksi dini bisa dilakukan secara lebih praktis,” katanya.
Badiyah mengungkapkan bahwa, dari sisi fisika, suara merupakan salah satu bentuk gelombang longitudinal. Artinya, getaran partikel udara bergerak searah dengan rambatan gelombang. Setiap suara, termasuk suara manusia, memiliki frekuensi tertentu yang dapat diukur secara kuantitatif.
Bahkan, suara yang dihasilkan ketika seseorang mengekspresikan emosi, seperti senang, sedih, atau marah, akan menunjukkan pola frekuensi yang berbeda. Dengan bantuan sensor, frekuensi tersebut dapat dicatat secara fisis dan dianlisis, kemudian dibandingkan dengan data referensi ilmiah.
Hasil perbandingan inilah yang menjadi dasar untuk menentukan apakah suara yang terekam menunjukkan tanda-tanda terkait gangguan bipolar atau tidak.
Hasil riset ini juga telah dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah berjudul “Design and Development of a Bipolar Disorder Detection Device Based on Anomalies in the Frequency of Conversation Sound Waves Using the Max9814 Sensor” di jurnal nasional Gravity
Keberhasilan ini semakin istimewa karena menegaskan kontribusi mahasiswa dan dosen UMLA dalam bidang sains terapan, khususnya fisika yang beririsan dengan kesehatan mental.
“Saya tidak menyangka penelitian ini bisa mendapat perhatian luas. Semoga bermanfaat bagi pengembangan teknologi kesehatan mental di Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, Uswatun Hasanah, selaku dosen pembimbing menegaskan bahwa, Universitas berkomitmen akan mendukung inovasi mahasiswa tersebut.
“Setelah ini, akan kita lakukan berbagai rangkaian uji laboratorium dan lapangan lagi. Sebelum nantinya akan di urus hak kekeyaan intelektual (HKI) dan hak paten merek. Semoga nantinya juga bisa diproduksi secara massal,” tegasnya.
Pihak universitas mengapresiasi capaian tersebut dan menyebutnya sebagai bukti nyata bahwa riset mahasiswa dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Ke depan, pengembangan lebih lanjut diharapkan mampu menghasilkan perangkat yang bisa dipakai klinik maupun keluarga untuk membantu pemantauan pasien bipolar secara mandiri.
Perlu diketahui, Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) bulan lalu (24/9/2025) telah menggelar pelantikan dan pengambilan sumpah profesi 168 perawat dan 63 bidan.
Pada kesempatan yang sama, pada bulan ini UMLA akan menggelar Launching Ceremonial Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 yang akan dilangsungkan secara meriah dan penuh semangat.
Acara tersebut dilaksanakan bertepatan dengan Perayaan Milad UMLA ke-7, yang mengusung tema “Global Reach, Action Root” sebagai cerminan komitmen universitas untuk memperluas jangkauan keilmuan dan kolaborasi global, sekaligus meneguhkan aksi nyata yang berakar pada nilai-nilai lokal dan kemanusiaan.
Melalui momentum-momentum ini, UMLA menegaskan langkahnya sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang dalam inovasi, pengabdian, dan pendidikan berkualitas untuk masyarakat Indonesia dan dunia (az).







