DPD IMM Jatim: Komedi Adalah Praktek Budaya, Bukan Hiburan Semata

Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Pariwisata Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur, Satria Putra (foto: ist)

 

SUARABHINNEKA, LAMONGAN – Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Pariwisata Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Timur, Satria Putra, menanggapi polemik pelaporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono dengan menekankan pentingnya melihat komedi sebagai praktik budaya, bukan semata hiburan.

Satria mengatakan, dalam perspektif kajian budaya (Cultural Studies), khususnya pemikiran tokoh Stuart Hall, budaya merupakan ruang produksi makna dan arena pertarungan wacana di tengah masyarakat.

“Dalam pandangan Stuart Hall, budaya tidak pernah netral. Komedi adalah medium representasi sosial yang memproduksi makna, menyampaikan kritik, dan membentuk kesadaran publik,” kata Satria kepada suarabhinneka.com, Senin (12/1/2026).

Lebih jauh, Satria menjelaskan bahwa, pesan yang disampaikan komika melalui materi pertunjukan merupakan proses encoding, sementara respons publik merupakan proses decoding. Karena latar sosial dan pengalaman audiens berbeda-beda, tafsir terhadap pesan tersebut pun tidak selalu sama.

“Ada publik yang membaca komedi sebagai edukasi politik dan refleksi sosial, ada pula yang menafsirkan secara berbeda dan merasa tersinggung. Perbedaan pembacaan ini wajar dalam masyarakat demokratis yang majemuk,” jelasnya.

Satria menilai, munculnya laporan hukum terhadap ekspresi seni perlu disikapi secara hati-hati agar tidak mempersempit ruang kebebasan berekspresi. Ia mengingatkan bahwa seni dan budaya seharusnya menjadi ruang dialog, bukan ruang pembatasan.

“Kritik sosial yang disampaikan lewat seni idealnya dijawab dengan diskursus, klarifikasi, dan peningkatan literasi publik, bukan semata-mata pendekatan hukum yang berpotensi menimbulkan ketakutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Satria memandang komedi memiliki peran strategis dalam memperluas literasi politik masyarakat karena mampu menyampaikan isu-isu kompleks secara lebih ringan dan mudah dipahami.

“Komedi bisa menjadi jembatan komunikasi antara gagasan kritis dan publik luas. Selama disampaikan secara bertanggung jawab, ruang seni harus tetap dilindungi sebagai bagian dari demokrasi,” pungkasnya (az).

Show More
Back to top button