Resmikan Gedung Program Revitalisasi di Lamongan, Kemendikdasmen Komitmen Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Kemendikdasmen Prof. Biyanto saat meresmikan gedung hasil program Revitalisasi Sekolah di Lamongan (foto: az)
SUARABHINNEKA, LAMONGAN – Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Prof. Dr. Biyanto meresmikan gedung SD Muhammadiyah 1 Turi, Sabtu (24/1/2026).
Gedung senilai Rp 600 juta tersebut, merupakan bantuan fisik program Revitalisasi Sekolah yang digerakkan oleh Kemendikdasmen tahun anggaran 2025.
Biyanto mengungkapkan bahwa, program revitalisasi sekolah pada tahun 2025, melampaui target awal yang semula ditetapkan Presiden yakni sebanyak 14.440 sekolah, terealisasi 16.000 sekolah melalui penerapan skema swakelola.
Program tersebut, kata Biyanto, merupakan komitmen Presiden Prabowo dan Kemendikdasmen dalam mewujudkan Pendidikan bermutu untuk semua.
“Tahun ini kami tentu akan melanjutkan program Refit ini dengan sasaran baik sekolah yang sudah dapat tahun kemarin atau sekolah yang baru sama sekali belum dapat. Kami akan periksa di Dapodik untuk melihat peluang memberikan bantuan,” ungkap Biyanto.
Pada tahun 2026, ujar Biyanto, Kemendikdasmen memproyeksikan revitalisasi 11.000 sekolah di seluruh wilayah Indonesia. Tak terkecuali di wilayah terdampak banjir.
“Bapak Presiden juga pernah menyampaikan komitmen untuk menambah kuota revitalisasi sebanyak 60.000 sekolah. Jadi kalau jadi terealisasi nanti totalnya menjadi 71.000 sekolah yang direvitalisasi. Tentunya nanti akan dibicarakan dulu dalam rapat dengar pendapat dengan DPR RI,” ujar Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Dalam kesempatan tersebut, Biyanto juga menerima aspirasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Shodikin.
Shodikin berharap agar Kemendikdasmen memberikan bantuan revitalisasi kepada sekolah yang terdampak banjir musiman di wilayah bengawan jero. Bantuan tersebut, nantinya akan digunakan untuk peninggian lantai.
“Aspirasi ini akan kami sampaikan ke pak Menteri. Kami juga mendorong agar sekolah-sekolah tersebut mengajukan proposal permohonan bantuan revitalisasi kepada Kemendikdasmen,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Shodikin, melaporkan sebanyak 22 sekolah dasar di Lamongan telah menyelesaikan proses revitalisasi pada tahun ini. Fokus berikutnya diarahkan ke sekolah di kawasan rawan bencana, terutama wilayah Bengawan Jero.
Shodikin mengusulkan penerapan desain khusus untuk 32 sekolah yang rutin terdampak banjir tahunan, berupa sekolah panggung atau peninggian struktur bangunan.
“Dari kajian kami, untuk 32 sekolah yang terdampak banjir itu skemanya kalau tidak sekolah panggung ya ditinggikan. Lantainya diangkat satu meter dan atapnya dinaikkan satu meter, insyaallah aman,” kata Shodikin.
Program revitalisasi ini bersifat inklusif, mencakup sekolah negeri maupun swasta. Penentuan penerima bantuan dilakukan melalui proses verifikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
“Mudah-mudahan dengan peluang yang disampaikan Pak Biyanto tadi, sekolah calon penerima revitalisasi di Lamongan bisa benar-benar terealisasi tahun ini untuk mengangkat kualitas pendidikan bagi semua,” pungkasnya (az).







