Kesling Unisla Gelar Seminar Internasional Bahas Ancaman Kesehatan Akibat Perubahan Iklim

Suasana seminar Internasional Kesling Unisla (foto: ist)
SUARABHINNEKA, LAMONGAN – Universitas Islam Lamongan (UNISLA) melalui Program Studi (Prodi) Kesehatan Lingkungan (Kesling) selenggarakan seminar internasional bertajuk “Awareness Against Health Threats of Climate Change (AWARE)”, Kamis (22/5/2025).
Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II UNISLA, Dr. Nurul Badriyah. Dalam sambutannya, Nurul menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun kesadaran kolektif terhadap isu-isu lingkungan dan kesehatan.
“Perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan semata, tetapi telah menjadi tantangan serius dalam bidang kesehatan masyarakat. Melalui forum ilmiah ini, kami berharap terjadi pertukaran ilmu dan kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan, Inganatul Muhimmah, menjelaskan bahwa, kesehatan merupakan hal penting yang harus senantiasa dijaga.
Disisi lain, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, dr. Mafidhatul Laely menerangkan bahwa, lingkungan menjadi salah satu faktor utama datangnya penyakit ataupun terjaganya kesehatan.

Rektor Unisla, Dr. Abdul Ghofur foto bersama pembicara dan civitas akademika (foto: ist)
Sebagai pembicara kunci seminar menghadirkan Prof. Yu-Chun Wang, Ph.D., pakar kesehatan lingkungan dari Chung Yuan Christian University, Taiwan.
Selain itu, turut menjadi pemateri Arief Firman Wicaksono, SKM, Penelaah Teknis Kebijakan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan Nur Lathifch Syakbanah, S.KM., M.PH., spesialis kesehatan masyarakat dari Prodi Kesehatan Lingkungan UNISLA, yang bertindak sebagai moderator seminar.
Dalam paparannya, Prof Wang mengungkapkan, topik utama yang diangkat mencakup bukti risiko kesehatan akibat perubahan iklim di Indonesia.
“Kolaborasi dalam sistem peringatan dini untuk kesehatan masyarakat, pengembangan teknologi AI untuk prediksi risiko kesehatan akibat iklim, serta demo dan praktik penggunaan data simulasi (mock-up) dalam mitigasi dampak perubahan iklim sangat diperlukan,” terang Prof. Wang.
Sementara itu, Arief menambahkan dalam pemaparannya bahwa selain diare, kasus DBD juga merupakan dampak dari perubahan cuaca yang ekstrim.
“Sehingga, penting kiranya buat semua untuk bersama-sama menjaga kesehatan lingkungan masing-masing,” tegasnya.
Dalam penutupnya, Nurul menegaskan bahwa, seminar AWARE, sebagai bentuk komitmen Unisla dalam mendukung edukasi dan kolaborasi lintas sektor guna meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
“Semoga hasil kegiatan ini bisa bermanfaat bagi seluruh civitas akademik dan pemerintah dalam menghadapi ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim,” pungkasnya (az).







